• Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kabupaten Sumbawa, Web Admin Diskominfotik Kantor Bupati Garuda No.1 Sumbawa Besar
Juna Idaman: Fasilitator Daerah Kebanggaan Sumbawa

Juna Idaman: Fasilitator Daerah Kebanggaan Sumbawa

06 September, 2018

Sumbawa, Sumbawakab.go.id - Juna Idaman, S.Pd, M.Pd, atau biasa dipanggil Pak Juna adalah fasilitator daerah (FasDa) program rintisan PERMATA yang dilaksanakan di Kabupaten Sumbawa. PERMATA (Peningkatan Kualitas Pembelajaran Matematika Kelas Awal) adalah program rintisan INOVASI yang bertujuan untuk meningkatkan hasil pembelajaran numerasi siswa.

Juna merupakan putra terbaik Sumbawa karena berhasil menorehkan prestasi di tingkat nasional ketika terpilih sebagai Tendik (Tenaga Pendidikan) Berprestasi peringkat tiga Bidang Pengawas Sekolah di tingkat Nasional Tahun 2017. Beliau juga berperan sebagai Duta Pengawas Sekolah NTB tahun 2017. Prestasi dan pencapaian beliau merupakan usaha dan kerja keras yang tidak kenal lelah baik ketika menjadi guru maupun setelah menjadi pengawas sekolah. Agustus mendatang, Juna akan mewakili provinsi NTB yang akan mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas pengawas sekolah di Monash University, Australia dan akan menjadi Duta Pengawas Sekolah Indonesia. Kegiatan ini difasilitasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Juna menjadi Fasda program rintisan PERMATA bukanlah tanpa perjuangan karena beliau mengikuti proses seleksi dan wawancara setelah menerima undangan dari staf INOVASI Kabupaten Sumbawa. Menurut Juna, banyak manfaat yang telah diterima oleh para guru yang ada di bawah pengawasannya. Melalui rangkaian kegiatan yang difasilitasi oleh INOVASI, Juna merasa para guru menjadi lebih nyaman dalam mengajar karena mereka menjadi percaya diri. Selain itu, para guru juga menjadi lebih kreatif dengan mengggunakan media pembelajaran yang ada di lingkungan sekitar mereka.   

“Terkadang media pembelajaran yang ada di kelas hanya menjadi pajangan, bahkan ada yang masih terbungkus rapi di pojok ruangan. Hal ini sangat disayangkan karena seharusnya media yang ada harus digunakan seluas-luasnya untuk siswa dan guru perlu untuk sekreatif mungkin untuk memanfaatkannya,” tutur Juna mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi dahulu sebelum intervensi program rintisan PERMATA.

Juna tidak asing dengan media pembelajaran karena sebelum menjadi pengawas, Juna malang melintang menjadi guru. Karirnya bermula di tahun 1994 ketika menjadi guru SDN Tuananga, Kecamatan Seteluk, yang sekarang merupakan bagian dari Kabupaten Sumbawa Barat. Karir beliau menjadi pengawas sekolah bermula tahun 2011 dan berlanjut sampai sekarang hingga akhirnya terpilih menjadi pengawas sekolah berprestasi dan mewakili NTB di tingkat nasional.

Meraih Pendidikan Magister dari Universitas Negeri Yogyakarta dengan predikat cum laude di Tahun 2009, Juna telah berpengalaman dalam menghasilkan inovasi-inovasi di bidang pembelajaran numerasi. Juna memperkenalkan pendekatan ELPSA di SDN 1 Lopok bersama dengan guru dari sekolah tersebut bernama Ibu Nurma. ELPSA adalah singkatan dari Experience Language Pictorial Symbol Application. Experience adalah tahap dimana siswa mengeksplorasi lingkungan sekitar sesuai dengan materi yang ada. Language kemudian membahasakan pengalaman mereka. Kemudian tahap pictorial dimana siswa diberikan pemahaman materi melalui gambar dan symbol adalah bentuk penyederhanaan materi menggunakan simbol-simbol sederhana, sedangkan application adalah pengaplikasian materi dalam bentuk soal-soal cerita. Sebagai contoh, sebuah RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang disusun dengan materi pokok ‘pengukuran berat benda dengan ukuran satuan tidak baku’ yang diajarkan di kelas 1 SD. Pertama, anak-anak diminta menjawab pertanyaan seputar benda di rumah berupa mainan (Experience). Guru pun menanyakan mana benda yang berat dan ringan kemudian siswa diajak untuk membahasakan alat untuk mengukur berat benda yaitu dengan timbangan (Language). Selanjutnya guru memperlihatkan benda dan menayangkan gambar alat ukur tidak baku (Pictorial). Materi pun disederhanakan menggunakan simbol sederhana dalam mengukur berat benda, mengurutkannya dari yang paling berat ke yang paling ringan dan dikerjakan secara berkelompok (Symbol). Untuk soal cerita sederhana, guru menggunakan LKS (Lembar Kerja Siswa) sebagai media bantu untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang alat ukur berat (Application).

Bentuk inovasi lainnya yang dicapai Juna adalah melalui metode yang disebut dengan snowball throwing dimana satu anak memegang kertas berbentuk bola yang ditulisi sebuah angka. Bola tersebut kemudian dilempar ke salah satu temannya untuk menyebut bilangan yang tertera. Juna juga menghasilkan inovasi lainnya seperti penggunaan kartu bilangan yang divariasikan dengan benda konkret untuk materi pembelajaran bilangan dan lambang bilangan.   

Juna menjadi Fasda program rintisan PERMATA bukan tanpa pengalaman. Sebelumnya Juna telah terlibat dalam program-program pendidikan.

“Sebagai Fasda, saya cukup terbekali dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya sebagai Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG), pemandu pelajaran IPA dalam program kerjasama Pemerintah Indonesia dan Jerman yang disebut dengan SEQIP (Science Education Quality Improvement Project) dan sebagai fasilitator daerah pada Program Bermutu,” jelas Juna.

Terkait program rintisan PERMATA, sebagai Fasda Juna mengalami tantangan dalam mengembangkan program ini, khususnya untuk mengubah pola pikir guru agar dapat menemukan solusi pembelajaran dalam mengajarkan numerasi kepada siswa. Salah satu solusinya menurut Juna adalah pola pendampingan guru yang intensif dan terfokus.

Sebagai seorang pengawas sekolah, Juna tentu memiliki banyak harapan untuk guru-guru di daerah Kabupaten Sumbawa untuk tetap konsisten dalam memunculkan inovasi-inovasi pembelajaran dan inovasi tersebut dapat dikembangkan di lingkungan sekolah lainnya. Sekembalinya dari Australia, Juna berharap dapat mengimplementasikan tugas kepengawasan lebih optimal lagi.  

“Sebagai tenaga yang bergelut dalam dunia pendidikan bekerjalah dengan nurani dengan tanpa terikat pengawasan. Jangan terlihat berkinerja ketika mendengar pengawas sedang berada atau akan datang ke sekolah karena kunci kesuksesan utama adalah niat, yang dilandasi oleh modal sosial “lenge rasa” (Bahasa Sumbawa yang bila diartikan tidak enak hati/sungkan),” pesan Juna kepada para tenaga pendidik lainnya.

Sebagai fasilitator daerah, Juna memiliki harapan untuk program rintisan PERMATA.

“Harapan saya sebagai fasilitator adalah program rintisan PERMATA dapat dikembangkan ke sekolah-sekolah lain dan gugus-gugus lain bahkan seluruh Sumbawa sehingga nilai Matematika yang diharapkan bisa kita gapai,” ujar Juna menggambarkan harapannya untuk program rintisan PERMATA. 

Program rintisan PERMATA akan terus mendukung para pihak berkepentingan terkait pendidikan di Sumbawa dalam rangka meningkatkan hasil pembelajaran siswa di bidang numerasi. Tentunya, peran fasilitator daerah seperti Juna memegang peranan penting dalam setiap kegiatan dari program rintisan PERMATA.

sumber : INOVASI

 

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar