• Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Wujudkan Kabupaten Sumbawa Yang Hebat dan Bermartabat Dengan Semangat Indonesia Kerja Bersama
Mengenal Perkawinan Suku Samawa

Mengenal Perkawinan Suku Samawa

07 March, 2017
1. BAJAJAG
Dalam kesempatan pertama dan tahap awal dari berhasil atau tidaknya suatu perkawinan didahului dengan penjajagan (BAJAJAG). Seorang jejaka yang sudah menaruh hari kepada seorang gadis, sebelum resmi meminang memerlukan waktu untuk mengenal sang gadis lebih dekat tentang kepribadiannya, keterampilannya, serta kesunguhan hati sang gadis untuk berumah tangga.

Biasanya yang melakukan penjajagan  ini adalah kerabat dekat dari jejaka (saudara perempuan atau bibi) diutus untuk bertandang kerumah sang gadis untuk mengadakan pendekatan.

 
2. BAKATOAN
Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim kecil yang ditentukan oleh keluarga pihak laki-laki yang biasanya terdiri dari sanak keluarg terdekat  yang dituakan serta tokoh masyarakat yang disegani. Sebelum dilaksanakan seorang utusan dari pihak laki-laki mendatangi orang tua pihak perempuan yang memberitahukan bahwa akan datang pihak laki-laki. Bakatoan (meminang) baru dilaksanakan apabila kedua belah pihak telah betul-betul siap. Bilamana dirasakan cocok, pinangan langsung diterima yang ditandai dengan ditinggalkannya barang-barang berharga oleh pihak laki-laki, sebagai ikatan awal sebelum tiba tahap berikutnya. Namun apabila pinangan tidak diterima karena pada masa penjajagan tadi pihak wanita menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kriteria mereka, maka pada saat itu pula langsung ditolak pinangannya, tentu dengan cara halus.
 
3. BASAPUTIS (SAPUTIS LING)
Musyawarah antara kedua belah pihak untuk membicarakan seluruh kegiatan perkawinan. Menurut adat Samawa yang paling berperan dalam pelaksanaan upacara perkawinan adalah dari wanita da dalam kesempatan itu menyampaikan keperluan-keperluan yang harus dipenuhi oelh pihak laki-laki yang biasanya dalam bahasa Sumbawa disebut MAKO. Besar kecilnya keperluan tersebut tergantung hasil musyawarah antara keluarga wanita. Pada saat inilah peran SANRO atau dukun sangat dominan untuk memerlukan hari dan bulan baik bagi upacara berikutnya, dan masih tetap mempertimbangkan keinginan pihak laki dan perempuan.
 
4. BADA DAN NYORONG

Bada adalah pemberitahuan secara resmi kepada sigadis bahwa tidak lama lagi akan menikah. Yang melaksanakan “Bada” ini biasanya ditunjuk istri tokoh masyarakat yang disegani. Waktu yang dipilih biasanya pagi hari dengan mengucapkan kata-kata sebagai berikut:

 
”Mulai ano ta man mo lis tama apa ya tusabale sapara kau ke si A anak si B”
 
Setelah mendengar ucapan itu biasanya sang gadis secara spontan menangis yang disambut dengan suara rantok bertalu-talu seolah-olah menjadi pengumunan/permakluman kepada masyarakat kampung bahwa seorang gadis telah akan meninggalkan masa remajanya. Bersamaan dengan itu segala keperluan sebagai hasil dari “Basaputis” harus dipersiapkan. Setelah semuanya rampung, dilanjutkan dengan acara “NYORONG” yang dilaksanakan oleh rombongan yang cukup besar dengan membawa barang-barang. Dalam perjalanannya diiringi oleh musik vocal tradisional yaitu Ratib Rebana Ode menuju ke rumah keluarga perempuan. Dipihak perempuan telah siap pula menunggu wakil-wakil keluarga dan tokoh  masyarakat setempat dalam jumlah yang cukup besar. Setelah berbasa-basi, biasanya dengan acara berbalas pantun, barang-barang bawaan pun diserahkan.
 

5. BARODAK RAPANCAR

Dalam acara ini, calon pengantin dilulur dengan ramuan tradisional yang disebut ODAK. Odak dibuat dari ramuan kulit-kulit beberapa  jenis pohon yang diproses secara khusus (ditumbuk halus). Odak berguna untuk menghaluskan kulit. Disamping diberi odak, calon pengantin juga diberi pancar (pemerah kuku). Kedua mempelai dicat kukunya (kaki/tangan) oleh Ina Odak (petugas khusus sebagai juru rias). Selama Barodak kepada mereka diajarkan pula hal-hal yang berhubungan dengan persiapan menjadi suami isteri, termasuk menjaga makanan dan minuman.
 

6. ETE LING

Dua atau tiga hari sebelum akad nikah, dua orang petugas (P3NTCR) atas permintaan orang tua wanita mendatangi calon pengantin wanita untuk meminta jawaban secara resmi apa ia sudah siap untuk dinikahkan dengan calon pengantin pria. Bila ya, maka si gadis menyampaikan ucapan (LING) yang disampaikan kepada orang tua dan langsung pada saat itu dirundingkan apakah akad nikah nanti akan dilaksanakan sendiri oleh ayah sang gadis ataukah diwakilkan.
 
7. NIKAH
“Nikah” merupakan inti dari seluruh rangkaian upacara adat perkawinan. Pada saat ini diundang tokoh-tokoh agama dan masyarakat untuk turut menyaksikan perkawinan yang suci.
 
8. BASAI
Upacara yang menjadikan kedua mempelai menjadi raja sehari. Pemberitahuan kepada seluruh warga masyarakat tentang perkawinan mereka dilaksanakan sepenuhnya lewat upacara “Basai”. Pada saat ini dilaksanakan acara BARUPA yaitu diberikannya uang logam kepada kedua mempelai, oleh hadirin yang datang yang disambut pula dengan puisi-puisi lisan tradisional (lawas) yang menyampaikan pesan-pesan moral terselubung yang sukar dilupakan oleh kedua mempelai.
 

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar

    Berita Terbaru
    DIBUTUHKAN SOLUSI KONSTRUKTIF ATASI MASALAH TKI
    12 Oktober, 2016
    Banyaknya persoalan TKI yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah sampai saat ini seperti pra penempatan, TKI terlilit hutang pada rentenir, TKI illegal, tindak kekeran sampai dengan tidak dibayarkanya gaji TKI menjadi keprihatinan tersendiri dan mendorong banyak pihak untuk mencarikan solusi terbaik bagi hal tersebut